| |
KARYA PESERTA CERPEN ONLINE |
 |
Home
// Lomba Cerpen Online / Kategori
// Daftar Peserta // Kategori
Mahasiswa
Peserta Yang Telah Memenuhi Persyaratan
No Peserta : |
54 |
Nama Peserta: |
Muhammad Fadhil Tarigan |
Asal Sekolah : |
Universitas Muhammadiyah Sumat |
Propinsi : |
Sumatera Utara |
Posting : |
16052005 ,
WIB |
cerpen : |
Kini Tak Ada Beban Apapun di Kepala Kyla
Kepala Kyla mulai terbebani. Tugas mata kuliah Kewiraan harus dikumpulkan lusa. Dia tidak suka dengan tugas mata kuliah ini. Beberapa buku yang dia pinjam dari perpustakaan sudah dibaca, tetapi belum satu titik koma pun dia tulis.
Sebenarnya, bukan tugas itu yang membuat dia malas, tetapi perkuliahan pekan lalu yang menyengat ubun-ubunnya. Entah mengapa dia merasa menjadi korban Pak Abdul Razak, dosen Kewiraan.
“Ini mungkin seperti masa Sekolah Dasar dahulu, tapi tidak apa-apalah. Saya cuma ingin tahu, apa yang kamu ketahui tentang Kartini?” tanya Pak Razak sambil duduk di meja.
“Pahlawan nasional, Pak!” sahut Rien di sudut kanan.
“Lainnya?”
“Tokoh emansipasi, Pak?” jawab Kasendy di bagian depan.
“Lalu apa lagi? Apa yang membuat dia seolah hidup sampai sekarang? Bagaimana dengan kamu?” tangannya menunjuk lurus ke mata Kyla.
Walau memperhatikan mata kuliah, tetapi Kyla memang tidak siap dengan pertanyaan itu.
“Sebenarnya, saya tidak tahu apapun soal Kartini, kecuali dia lahir tanggal 21 April,” sahut Kyla dengan suara pelan. Tepatnya tidak simpati.
Sikap itu disambut Pak Razak dengan kalimat, “Wah, mestinya kamu banyak membaca!” Sialnya bagi Kyla, kalimat Pak Razak tidak selesai sampai di situ. Dilanjutkan dengan cemoohan lain yang terbalut dalam bahasa santun, membahas nama Kyla yang berasal dari bahasa Gaelic di Afrika yang artinya cantik molek.
Lalu Pak Razak menyampaikan hasil penelitian sebuah majalah yang menyimpulkan perempuan cantik cenderung tidak cerdas. Pernyataan terakhirlah itulah masalahnya. Itu sama saja dengan menyatakan Kyla tidak cerdas.
“Supaya kalian tahu tentang kepahlawanan, buat makalah perorangan tentang kepahlawanan. Kumpul minggu depan,” Pak Razak menutup perkuliahan.
# # # # #
“Cantik, tapi bodoh. Sialan!” tukas Kyla sambil terduduk lesu di meja belajar di ruang tengah rumahnya. Kalimat itu terus terngiang dalam kepalanya. Padahal empat hari lewat sudah. Dan, tugas Kewiraan sudah semakin dekat.
Kemarahan dan tugas kuliah yang mendesak akhirnya berpadu. Dan seperti gemuruh supervolcano, jari-jari tangannya mulai menulis: ketidaksetujuannya tentang kepahlawanan Kartini.
--- Sesungguhnya memang akan sulit dijawab, jika pertanyaannya bagaimana nama Kartini bisa menjadi Hari Kartini? Bahkan mungkin seluruh mahasiswa di Indonesia ini tidak akan bisa menjawab pasti. Semua adalah duga-duga. Semua akan mengawalinya dengan kalimat: mungkin karena...
--- Saya ingin membuat makalah ini sebagai sebuah bahan diskusi, untuk menyegarkan ingatan, agar kita bisa mengetahui alasan mengapa kita setuju seseorang disebut pahlawan. Misalnya pada bulan April ini, sungguh sebuah keheranan yang ajaib, semua merasa perlu berbicara tentang Kartini, yang seterusnya dikaitkan dengan memakai kebaya dan ikut parade kecantikan.
--- Kartini, entah mengapa bisa menjadi begitu istimewa, hari lahirrnya diperingati dengan namanya. Sementara Ki Hajar Dewantara yang lahir 2 Mei 1899, kelahirannya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional, bukan Hari Ki Hajar Dewantara. Tanggal 6 Juni 1901 yang merupakan hari lahir Soekarno juga tidak pernah diperingati sebagai Hari Soekarno.
--- Nyatanya tak begitu banyak yang bisa diceritakan tentang Kartini. Yang kita tahu setelah 126 tahun masa kelahirannya, Kartini sekolah sampai pada tingkat dasar, dan sebagaimana adat Jawa, setelah berusia 12 tahun, anak perempuan harus dipingit hingga lima tahun ke depan, atau sampai dinikahkan. Tetapi sungguh Kartini sangat beruntung, dia mendapat pendidikan tambahan pasca sekolah dasar itu. Membuat dia bisa berbahasa Belanda.
--- Pada masa menjalani pingit, Kartini banyak membaca buku, majalah dan literatur, serta memasang iklan di media Belanda Hollandsche Lelie, menawarkan diri menjadi sahabat pena. Dia pun bisa berkorespondensi dengan Stella dan Annie Glasser.
--- Sebenarnya buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang ditulis Kartini, hanyalah pertukaran kabar Kartini dengan sahabat penanya di luar negeri. Kondisinya sekarang ini kira-kira tidak jauh berbeda seperti orang saling kirim SMS. Bedanya, atas prakarsa Direktur Dinas Pendidikan dan Kebudayaan JH Abendanon, salah satu sahabat pena Kartini, maka pada tahun 1911 surat-surat itu diterbitkan menjadi buku berjudul Door Duisternis tot Licht. Gedachten Over en Voor Het Javaaansche Volk van Raden Ajeng Kartin. Buku inilah pedoman atau titik tolak kepahlawanan Kartini.
--- Faktanya, Kartini tidak mengalami kehidupan sesulit Tjoet Nya' Dien, wanita pejuang dari Aceh yang harus meninggal dunia dalam pembuangan di Sumedang, Jawa Barat. Atau tidak juga seperti Dewi Sartika dari Jawa Barat atau Christina Martha Tiahahu dari Ambon.
--- Penderitaan awal RA Kartini, kalaupun bisa dikatakan demikian, baru terjadi beberapa tahun kemudian saat ayahnya menikahi perempuan ningrat RA Woerjan, putri Raja Madura, yang kemudian menurunkan status ibu kandung Kartini sebagai selir biasa. Tak lama setelah pernikahan itu ayahnya naik jabatan sebagai Bupati Jepara.
# # # # #
Berhenti sampai di paragraf ke delapan, Kyla membaca ulang tulisannya. Hampir jam 10 malam. Dia beranjak ke dapur, mengambil segelas air. Di ruang depan, terdengar suara televisi. Kyla melihat sekilas dari balik tirai pembatas ruang tengah dan depan. Ibu terlihat bersandar di kursi, nonton sendiri. Menyimak berita. Dia tak suka segala cerita sinetron dan infotainment yang mengubek cerita artis hingga kamar tidur.
Terinspirasi dengan Ibu, Kyla pun mencoba membawa ibunya dalam makalah Kewiraan ini. Sesuatu yang tidak dia rencanakan awalnya. Maka, dengan keberanian berpikir mahasiswa semester awal, Kyla melanjutkan tulisannya.
--- Sejauh yang saya pahami, alasan mengapa Kartini menjadi pahlawan adalah karena dia pernah diabadikan dalam bentuk buku. Saya mencoba mencari bahan lainnya tentang Kartini di internet. Namun sepertinya tidak ada satu situs pun yang bisa memberi gambaran bagaimana heroiknya perjuangan Kartini. Jangan-jangan, perjuangan Ibu saya jauh lebih dramatis dari pada kisah Kartini itu sendiri.
--- Ibu saya juga bernama Kartini, Kartini beru Bangun. Ibu saya anak pertama dari enam bersaudara, lahir 20 April tengah malam tahun 1965 di Kampung Lingga, sekitar 20 kilometer dari Brastagi, Kabupaten Karo. Lingga adalah desa tempat terdapat rumah-rumah adat berusia lebih dari 250 tahun yang tidak memiliki sekat atau pembatas berupa dinding kayu atau lainnya di dalamnya. Rumah ini dihuni lima sampai enam keluarga yang masih memiliki hubungan kekerabatan. Ibu saya lahir di tengah kekuatan budaya Karo yang demikian kuat ini.
--- Ketika Ibu lahir, makan bukan persoalan mudah. Penderitaan pasca perang belum sembuh, ada lagi masalah PKI. Di desanya, yang hingga kini sebagian besar hanya berupa barisan batang jagung, makanan utama juga jagung bukan beras. Cerita sedih seperti itu sudah lazim terdengar.
--- Lantas sekolah jauh. Harus berjalan kaki belasan kilometer ke Kabanjahe, ibukota Tanah Karo. Pulang sekolah, harus pula mengurus adik-adiknya. Karena sulitnya uang, Ibu saya sekolah sampai kelas empat, lalu tinggal di rumah. Ini salah satu pembeda RA Kartini dan Kartini Bangun.
--- RA Kartini hanya kebetulan saja menjadi wanita yang mudah diingat karena berasal dari keluarga bangsawan. Ayahnya Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat merupakan yakni Assisten Wedana Onderdistrik Mayong. Jadi Kartini pun mendapat gelar Raden Ajeng sejak lahir tahun 1879 di Desa Mayong, Jepara, Jawa Tengah.
# # # # #
Hampir pukul satu dinihari, Ibu sudah tidur di kamarnya. Tetapi Kyla belum mau berhenti, padahal dia biasa tidur pukul sepuluh malam. Setelah satu tegukan air minum, dia melanjutkan kemarahan pikirannya tentang Kartini. Kyla tentu saja tidak menunjuk ibunya sebagai orang yang layak menjadi pengganti figur Kartini, tetapi dia melihat bahwa banyak sosok lain.
--- Mungkin dahulu, Kartini memang dianggap berjasa pada zamannya. Tapi waktu itu, perjuangannya tidak nyata. Kita butuh sesuatu yang lebih riil. Yang lebih masuk akal hingga kita bisa paham bahwa memang Kartini layak menjadi pahlawan.
--- Jadi jangan menyalahkan sebagian wanita yang hanya mengenal Kartini melalui lomba memakai kebaya, atau kata-kata emansipasi. Kata emansipasi yang diambil dari kata emancipation dalam Bahasa Inggris sebenarnya berarti merdeka, bukan persaman hak. Emansipasi telah diterjemahkan dalam arti yang salah, padahal justru menjelaskan keinginan Kartini yang sebenarnya yang berpikir tentang persamaan kesempatan dalam hal pendidikan.
--- Makanya Kartini membuka sebuah sekolah khusus untuk gadis Jepara. Inilah andil Kartini, inilah perjuangan Kartini, kulminasi dan sumbangsihnya kepada bangsanya, mendirikan sekolah dan membuat buku.
--- Kita tidak bisa mencatatnya terlalu banyak sebab Kartini toh tak berumur panjang. Dia wafat dalam usia 25 tahun pada 17 September 1903 setelah melahirkan anak pertamanya, R. Singgih Susalit, buah pernikahannya dengan Bupati Rembang RTAA Djojohadiningrat, yang merupakan pria pilihan ayahnya, seorang suami yang masih memiliki dua istri saat menikahi Kartini.
--- Dengan perjuangan selama 13 tahun, yang dimulai sejak usia 12 tahun hingga meninggal dunia usia 25 tahun, lantas setiap hari lahirnya diperingati sebagai Hari Kartini! Mestinya kita harus berpikir kembali tentang syarat kepahlawanan.
# # # # #
Berhenti sampai halaman ini. Kyla membaca ulang semuanya dari awal. Matanya sudah semakin redup. Tetapi makalah ini masih belum selesai. Dia merasa perlu memasukkan kembali cerita perjuangan ibunya.
Kyla mulai menuliskan bagaimana kisah yang dijalani ibunya jauh lebih menderita daripada RA Kartini. Tentang bagaimana kedua orang tua ibunya meninggal dunia karena ditenung (guna-guna). Praktis Ibu tinggal bersama keluarga yang lain di rumah Lingga. Tetapi suasana sudah berbeda. Ibu yang enam bersaudara akhirnya terpisah, ikut keluarga yang membawa mereka.
Lantas Ibu menikah dan setelah lahir ketiga anaknya, suaminya, ayah Kyla meninggal. Terus ibu menjadi pembantu.. seterusnya, seterusnya.. hingga kini masih mengurus anak tetangga dengan bayaran tiga ratus ribu sebulan, dan sebagian di antaranya untuk biaya kuliah Kyla.
Sampai pada bagian kisah suram ini, Kyla kemudian menjadi semakin marah. Entah mengapa, dia merasa bahwa apa yang selama dibicarakan tentang Kartini terlalu dibesar-besarkan. Pergulatan pikiran dalam kepalanya terus bergulir. Dia merasa bahwa usai sudah masa mengenang Kartini, dan dia memulainya dari diri sendiri.
Menjelang paragraf terakhir dari sebelas halaman makalahnya, Kyla pun menulis:
--- Kartini yang dulu tak perlu dipuji, karena Indonesia butuh Kartini yang lebih berjuang! Atau setidaknya, perlu dilakukan penelitian seberapa berat perjuangan yang dilakukan Kartini dahulu sehingga layak menjadi pahlwan.
--- Jika dia tegar dan kuat, minimal seperti perjuangan hidup Tjoet Nya' Dien, maka dia tidak layak menjadi pahlawan. Jika Kartini tidak seperti itu, terlalu biasa. Wanita Indonesia, butuh Kartini yang kukuh. Bukan Kartini biasa!
# # # # #
Keesokan pagi, saat membaca ulang makalahnya yang akan diketikkan di rental komputer, Kyla tertegun. Makalahnya yang semula hanya 11 halaman yang dia letakkan di meja belajar pagi tadi, telah bertambah satu lembar. Ada dua paragraf tambahan kalimat:
--- Hidup harus realistis. Kamu harus tahu semua yang kamu bicarakan, tapi tidak semua yang kau tahu harus kamu bicarakan. Jika kamu tidak bisa memahami situasinya, jika kau tidak merasakannya. Jangan pernah menghina jasa pahlawan, bahkan tidak dalam gurauan.
--- Kartini tetap akan menjadi Pahlawan Agung dan pejuang bagi setiap wanya di Indonesia, sekalipun kepalamu terbakar memikirkan bahwa dia tidak layak. Karena kepahlawan tidak dinilai dari pemikiran, tetapi dari perbuatan. Tetapi bangsa yaang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya.
--- Salah besar jika kau bandingkan seorang pahlawan besar dengan ibu mu yang bodoh ini.
# # # # #
Kyla mafhum, itu tulisan Ibu. Dia harus mengubah isi dan judul makalah Kewiraan-nya menjadi, “Mengapa Kita Harus Menghargai Jasa Kepahlawanan Kartini.” Kini tak ada beban apapun di kepala Kyla.
Medan, 16 Mei 2005 |
IP Addres: |
61.5.20.111 |
|
Copyright © 2004 ISEKOLAH.ORG - All rights reserved
Any suggest about this site please contact us or send your email
to webmaster@isekolah.org
Powered by yoshiestudio.com
|
|
|
Lomba Puisi Online II
> Arsip Peserta
> Pemenang Lomba
> Juri
Lomba Puisi Kemerdekaan
> Pemenang
> Arsip Peserta
> Juri
Lomba Karya Tulis
> Arsip Peserta
> Pemenang Lomba
Lomba Pantun Online
> Pemenang
> Arsip Peserta
> Juri
Lomba Puisi Online IV
> Pemenang
> Arsip Peserta
> Juri
Lomba Puisi Online V
> Pemenang
> Arsip Peserta
> Juri
Lomba Cerpen Online
> Pemenang
> Arsip Peserta
> Juri
|